Fauzi Bahtar, Dari Pengusaha Banting Setir Berkhidmat Menjadi Ketua PWNU Kaltim

Bantingan setir Fauzi Bahtar sangat ekstrem. Dari pria yang terkenal di kalangan dunia usaha, beringsut menjadi ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Kaltim. Posisi yang biasanya dijabat kiai, kini dipimpin pebisnis.

ARRAHMAH.CO.ID - FAUZI BAHTAR bukan orang baru bagi warga NU. Khususnya di Benua Etam. Mantan ketua Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) Kaltim ini sudah akrab dengan NU sejak belia.

Ayahnya, Achmad Bahtar, merupakan wakil ketua PWNU Kaltim periode 2003–2008. Setiap ada kegiatan NU, Fauzi selalu dilibatkan. “Saya disuruh bapak jadi sopir. Mengantar kiai dan pengurus NU ke berbagai tempat. Itu cara bapak mengader saya,” ujar dia, Senin (30/4).

Dia mengatakan tertarik pada kultur organisasi keagamaan yang dipimpin Said Aqil Siradj itu. Menurut dia, NU jadi arus penyeimbang di antara dinamika keagamaan di Nusantara. Makanya tradisi khas Nahdliyin sudah melekat di dalam dirinya. “NU itu penyejuk. Tidak macam-macam. Tidak garis keras,” paparnya.

Lelaki ini mulai masuk di struktur PWNU Kaltim pada 2008. Dia langsung dipercaya menjadi wakil ketua Bidang Ekonomi PWNU Kaltim. Pada Konferwil IX di Pondok Pesantren Al-Mujahidin Samarinda, Sabtu (7/4), pekan lalu, Fauzi terpilih secara aklamasi sebagai ketua tanfidziah PWNU Kaltim. Mendulang enam suara pengurus cabang (PC) NU se-Kaltim. Sedangkan syarat untuk maju sebagai calon ketua minimal empat suara PC. Dengan mengantongi enam suara, otomatis tertutup peluang calon lain maju. “Saya didukung para kiai sepuh di Kaltim. Program ketua sebelumnya yang sudah bagus saya lanjutkan, yang masih kurang disempurnakan,” urai dia.

Publik mengenal Fauzi sebagai ketua Kadin Kaltim dua periode. Latar belakangnya sebagai pengusaha sejalan dengan misi yang dia bawa ke program kerja NU. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) punya program menguatkan ekonomi umat. “NU sudah sangat fasih di jalur keagamaan. Saya ingin memberdayakan sisi ekonomi warga Nahdliyin Kaltim,” ulasnya.

Sebagai ketua NU, tentu bakal ada saja yang ingin konsultasi agama pada dirinya. Dia menegaskan, untuk urusan keagamaan merupakan ranah syuriah NU yang isinya para kiai sepuh. Sedangkan perannya sebagai tanfidziah adalah menggerakkan roda organisasi. Fauzi mengaku tak sukar membagi waktu antara mengelola perusahaan dan memimpin NU.

Kata dia, sudah ada tim andal yang setiap hari melaporkan perkembangan kinerja perusahaan dan NU. Dengan latar belakang pengusaha, dia bisa memimpin dengan gaya santai dan formal. Rapat bisa dilakukan di kafe atau di ruang rapat resmi. “Semua menyesuaikan kondisi,” imbuh pengusaha di bidang kehutanan ini.

Memberdayakan ekonomi umat, dia akan meramu program pertanian untuk warga Nahdliyin. Yakni dengan memberikan edukasi, jaringan bisnis, dan bantuan modal. Dia juga mendata warga NU yang sudah punya bisnis maupun yang akan memulai bisnis. “Misalnya ada yang butuh bahan bangunan, bisa kontak ke warga Nahdliyin yang punya usaha bahan bangunan,” urai dia.

Kondisi umat beragama di Kaltim menurut dia cukup kondusif. Karakter warga Kaltim beda dengan di Jawa atau Jakarta. Ini juga tak lepas dari peran pengurus NU sebelumnya yang telah membangun hubungan baik dengan forum umat beragama dan pemerintah daerah (pemda).

Apalagi banyak pejabat pemda yang merupakan warga NU. Semisal Gubernur Kaltim Awang Faroek Ishak, Wali Kota Samarinda Syaharie Jaang, mantan Wakil Gubernur Kaltim Farid Wadjdy. Posisi tersebut memengaruhi dinamika keagamaan di tataran masyarakat. “Mereka memberikan nasihat sehingga situasi tetap kondusif,” sebut dia.

Peran membina umat telah dilakukan setiap hari di pondok pesantren. Ritual keagamaan telah rutin dilakukan. Misalnya, tablig akbar, pengajian, dan majelis zikir. Aneka kegiatan ini menciptakan situasi kondusif dan harmonis. Menurut dia, warga Benua Etam tidak ada yang radikal. Kalaupun ada kejadian pengeboman gereja beberapa waktu lalu, pelakunya bukan warga Kaltim.

Kondisi geografis Kaltim yang terbuka dari beberapa arah memang menjadi celah masuknya kelompok asing. Makanya dibutuhkan peran masyarakat untuk saling membentengi warga. Demi membendung itu, pihaknya bakal lebih intens menggelar pengajian agama. Aparat keamanan juga mesti lebih dini mengendus kelompok yang membahayakan. “PWNU Kaltim siap bekerja sama dengan berbagai pihak untuk menjaga keamanan dan kerukunan antar-umat beragama,” tutur dia.

Perkembangan teknologi saat ini tak luput dari perhatian Fauzi. Dalam waktu dekat, dia menggerakkan tim media sosial (medsos) PWNU Kaltim. Selain bertugas menyosialisasikan dakwah, tim ini akan memberantas hoaks dan fitnah yang mengancam kerukunan. Dia yakin, kelompok penebar fitnah bakal mudah dideteksi. Sebab, kebijakan pemerintah saat ini harus mendaftarkan nomor ponsel dengan identitas diri. Ini dapat menutup ruang ujaran jahat tersebut. “Membangun tim medsos merupakan program unggulan kepengurusan saya. Akan kami garap dengan serius,” sebut dia.

Dia menegaskan, NU itu organisasi besar. Jika semua badan otonom organisasi ini bergerak progresif, dia yakin, bakal memudahkan kinerja pemerintah membangun daerah. Misalnya, di kalangan mahasiswa ada Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Untuk anak muda, ada Gerakan Pemuda Ansor. Pelajar bisa bergabung di Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU). Ibu-ibu bergabung di Muslimat, perempuan di Fatayat, dan masih banyak lagi.

 

Artike Ini Telah Dimuat Di Pro Kaltim - Dikader Ayah dengan Menjadi Sopir para Kiai, Perkuat Tim Medsos, http://kaltim.prokal.co/read/news/329844-dikader-ayah-dengan-menjadi-sopir-para-kiai-perkuat-tim-medsos

0 Komentar

Cloud Hosting Indonesia
Cloud Hosting Indonesia
Cloud Hosting Indonesia